Aku, Indomie dan Malam
Aku mulai mengambil panci kemudian aku isi dengan air dari kran yang ada di dapur. Bukan hanya udaranya yang dingin, di tengah malam air dirumahku Magetan juga dingin karena memang kotaku berapa di kaki gunung Lawu. Kemudian kutarik tuas kompor gas lalu mulai merebus air.
Semliwir angin malam memang tidak bisa membohongi dinginnya malam itu. Tidak ada yang lebih hangat untuk melawan dinginnya malam di kotaku selain makan Indomi berkuah. Sambil aku buka bungkus Indomi kemudian aku masukkan mi ke dalam panci yang airnya sudah mendidih. Aku juga menuangkan beberapa bumbu ke dalam mangkuk. Dan mengaduk-aduk mi yang sedang direbus supaya matang merata.
Merupakan ritual yang bisa dibilang sering aku lakukan saat tengah malam perut kelaparan. Terimakasih untuk pencipta Indomie, karyamu sungguh membantu dan mempermudahku mengatasi perut lapar. Wajar jika kamu, Indomi, dihargai bahkan sampai ke luar negeri.
Lebih dari tiga menit kemudian kumatikan kompor gas, aku tuang mi yang sudah matang beserta kuahnya ke dalam mangkuk. Hmmm, aroma yang keluar dari panas mie itu membuat perutku semakin krucuk-krucuk. Sungguh sensasi di tengah malam yang tiada tandingannya.
Aku mebawanya ke kamar, kemudian kunyalakan telvisi. Aku pilih chanel tv yang menyiarkan berita, karena memang itulah tontonan paling relevan di tengah malam. Kemudian kunikmati Indomie itu dengan rasa syukur. Sungguh malam yang nikmat dan sederhana untuk membuatku bahagia menikmati hari libur di rumah.



Komentar
Posting Komentar