Senyum Dibalik Wajah Murung Jakarta

       Seperti biasa, Jakarta selalu kedatangan tamu tahunan ketika tiba musim hujan. Siapa lagi kalau bukan banjir yang setia menemani musim hujan di ibukota. Sudah bukan hal yang aneh bagi warga Jakarta.
        Tapi bagi gue yang merupakan warga pendatang dari kota kecil 'Magetan' banjir merupakan hal baru yang cukup merepotkan. Jalanan yang biasanya ramai oleh kendaraan sekarang terlihat sepi seperti kota mati. Suhu udara yang panas seakan disulap menjadi dingin yang menusuk tulang.
       Sang surya yang biasanya ceria menampilkan wajahnya di pagi hari kini menjadi murung sepanjang hari. Namun ada satu hal yang berbeda ketika semua orang sibuk memikirkan bagaimana agar rumahnya tak terlalu parah dihujang banjir, anak-anak yang begitu polosnya bermain-main air nampak seperti mendapatkan hadiah yang mereka impikan.
       Ya... banjir di ibukota seperti pisau bermata dua. Bagi orang yang boleh disebut dewasa banjir menjadi suatu bencana yang menyiksa. Tapi bagi anak -anak kecil penerus bangsa ini justru menanggapi banjir sebagai suatu berkah. Memang suatu yang kontras, tapi itulah kenyataannya.
       Mungkin kita yang boleh disebut dewasa bisa belajar dari mereka. Dimana suatu bencana tidak selalu menghadirkan keburukan, pasti ada satu hal lain yang bisa menjadikan kita pelajaran. Jika kita selalu menghadapinya dengan kesedihan tentunya tidak akan ada habisnya. Memang, kita tidak bisa merubah keadaan sekarang tapi kita bisa merubah sikap kita terhadap keadaan tetsebut.
        Semoga anak-anak yang begitu polos dan ceria bermain air banjir tersebut dan tentunya akan menjadi penerus bangsa ini kelak akan mampu membuktikan bahwa banjir bukan suatu hal yang harus dieluhkan dan ditakuti, tapi sesuatu yang harus dihadapi dan diselesaikan di negeri ini. Sehingga tidak lagi menjadi bencana tahunan yang merepotkan.

Komentar

Postingan Populer